about something from my point of view …

Just another Blogdetik.com weblog

Memantapkan Bangunan Nasionalisme

Posted in Tak Berkategori with tags on 3 September 2009 by mysideofsomething

Proses pembentukan secara utuh negara-bangsa Indonesia diakui memang belum selesai. Entitas yang baku dari sosok Indonesia yang menjadi muara dari rasa kebangsaan rakyatnya juga masih belum selesai diperdebatkan. Mempertanyakan kembali rasa kebangsaan kita terhadap negeri ini menjadi pekerjaan rumah rutin yang sayangnya hanya cukup terangkat ke permukaan ketika momen-momen tertentu. Rasa kebangsaan belum bisa menjadi bagian integral dari keberpihakan dan ketergantungan kita terhadap Indonesia. Seakan-akan rasa nasionalisme kita yang sekarang, selalu membutuhkan sesuatu yang bisa dikambinghitamkan untuk menariknya keluar dan menjadikannya produk massal atas nama rakyat. Berdasarkan pengalaman, dibutuhkan stimulus-stimulus dari pihak lain untuk menjadikan nasionalisme ini bukan hanya sekedar wacana. Mengingat ejadian mutakhir, ketika terjadi pengklaiman sepihak beberapa wujud budaya yang dianggap sebagai bagian dari kekayaan Indonesia oleh pihak lain, terbukti menjadi sebuah alarm bangun yang sangat efektif untuk mengangkat nasionalisme ke permukaan. Konsep harga diri bangsa yang selama ini tidak mendapat porsi dalam wacana, tiba-tiba menjadi topik yang bahkan laris diperbincangkan di warung kopi. Indonesia menjadi artis yang naik daun.

Pun ketika sorak-sorai penonton yang menyaksikan pertandingan atlet-atlet terbaik negeri ini dianggap sebagai bentuk baru kebangkitan nasionalisme, masih ada yang kurang lengkap jika nasionalisme hanya diperbincangkan sampai batas pintu keluar stadion saja. Anarkisme di luar stadion yang menjadi ajang utama helat kontes nasionalisme, tidak jarang juga dilakukan oleh pihak yang sama-sama meneriakkan nasionalisme demi mempertahankan gengsi kenegaraannya. Tidak ada yang salah dengan kebangkitan sementara nasionalisme di dalam semangat euforia ini. Namun, pembelaan terhadap kebangsaan yang terjadi dalam ajang bergenre kompetisi ini seakan hanya menggambarkan egoisme akan gengsi untuk tidak mau mengakui menjadi pihak yang kalah. Inilah yang menjadi salah satu bukti nyata bahwa nasionalisme kita masih berproses memantapkan bangunannya menyokong entitas Indonesia yang sebenarnya.

Nasionalisme reaktif hanya berkoar ketika ada stimulus dari pihak lain berupa klaim sepihak hasil budaya, penjualan aset yang seharusnya menjadi hak rakyat, penjualan pulau dan bahkan isu separatisme. Inilah yang patut menjadi koreksi bersama bagi sesiapa saja yang masih peduli terhadap selesainya proses mewujudkan Indonesia yang utuh. Nasionalisme jenis ini bahkan akan berpotensi menjadi pemantik separatisme ketika muncul kemungkinan pengalihan isu menjadi bentuk kritik terhadap pemerintah yang dianggap belum bisa mewujudkan kedaulatan. Bukan hanya satu kali selama tahun ini, pemerintah mendapatkan auto-kritik dari rakyat ketika kedaulatan wilayah menjadi taruhannya. Bentuk nasionalisme temporer yang hanya bisa muncul sebatas dalam bangunan yang merangsang atmosfer euforia gengsi dalam berkompetisi, juga dirasa sangat lemah pengaruhnya dalam kehidupan berbangsa yang sebenarnya. Esensi dari semangat massal ini terkadang tidak lebih dari sekedar menyiratkan ambisi untuk mengambil peran sebagai pihak yang dominan bagi pihak lain dengan merebut peran sebagai pemenang. Potensi strategis untuk mengarahkan semangat yang bersifat kolektif ini masih belum terkelola dengan baik. Keberlanjutan keberpihakan masyarakat banyak terhadap supremasi Indonesia terhadap hal-hal spesifik semisal gelar kejuaraan, sebaiknya bisa dijadikan modal untuk menggulung keberpihakan yang sama di berbagai bidang yang lebih strategis. Keberpihakan terhadap kedaulatan ekonomi bisa menjadi langkah awal jika semangat keberpihakan itu misalnya bisa diwujdukan melalui kecintaan terhadap produk dalam negeri dan langkah-langkah inisiatif lainnya.

Nasionalisme seharusnya bukan barang baru bagi negeri ini, jika menengok harga kemerdekaan yang tidak gratis bahkan ditebus dengan darah dan airmata. Tapi kita harus selalu percaya bahwa Indonesia akan selalu mempunyai harapan, dimulai dari sorak-sorai stadion dan aksi di jalan berevolusi menjadi kontribusi nyata mewujudkan Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.

Halo dunia!

Posted in Tak Berkategori on 10 Agustus 2009 by mysideofsomething

Selamat Datang Blogdetik.com. Ini merupakan postingan pertama Anda. Silahkan Edit atau hapus postingan ini, dan mulai ngeblog!